PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi
Salah Satu Tugas
Mata Kuliah
“Filsafat Pendidikan Islam” Pada Program Studi Dirasah Islamiyah
Program Pascasarjana (S3) UIN Alauddin Makassar
Oleh
Sutarjo Paputungan
NIM: 80100322023
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. H. Moh. Natsir
Mahmud, M.A.
Dr. H. A. Marjuni, M.Pd.I
PROGRAM STUDI
DIRASAH ISLAMIYAH (S3) PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2023
DAFTAR ISI
|
HALAMAN JUDUL
................................................................... i |
|
|
DAFTAR ISI................................................................................. ii |
i |
|
BAB I PENDAHULUAN......................................................... 1 |
|
|
A. Latar Belakang Masalah
......................................................... 1 |
|
|
B. Rumusan Masalah................................................................... 2 |
2 |
|
BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian
Epistemologi...................................................... 3
|
3 |
2. Pengertian Aksiologi Pendidikan Filsafat Pendidikan Islam................................................................................... 8
3. Pengertian Ontologi Pendidikan dalam Kajian Filsafat Pendidikan Islam............................................................................................... 11
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB III PENUTUP.......................................................................... 13 |
|
|
A. Kesimpulan........................................................................ 13 |
|
|
B. Saran
..................................................................................... . 13 |
1 |
|
DAFTAR PUSTAKA........................................................................ 14 |
|
![]()
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan
berpikir merupakan obor pencerahan peradaban di mana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih
sempurna. Berbagai peralatan
dikembangkan manusia untuk meningktkan kualitas hidupnya dengan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan
dan penerapan itulah yang menghasilan kapak dan batu zaman dulu sampai komputer zaman
ini.
Filsafat
adalah berpikir secara mendalam tentang
hakekat sesuatu. Kajian filsafat adalah kajian tentang
esensi apa yang menjadi dibalik kenyataan yang ada[1]
Memahami filsafat dengan baik maka orang akan dapat mengembangkan secara konsisten ilmu-ilmu
pengetahuan yang dipelajari. Filsafat
mengkaji dan memikirkan tentang hakikat
segala sesuatu secara menyeluruh, sistematis, terpadu, universal
dan radikal yang hasilnya menjadi pedoman dan arah dari perkembangan ilmu-ilmu
yang bersangkutan. Filsafat merupakan acuan untuk meningkatkan mutu pendidikan, disadari atau tidak, nampaknya dapat mempengaruhi situasi dan kondisi yang memprihatinkan seperti
saat ini, semuanya menumpukan seluruh
harapan kepada pendidikan,
karena sadar bahwa hanya melalui
pendidikan dapat memperbaiki hidup[2].
Firman Allah swt. dalam QS. Ar-Rad/13: 19:
۞ اَفَمَنْ
يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ
اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِۙ
Terjemahan
Apakah orang yang
mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad)
dari Tuhanmu adalah
kebenaran sama dengan orang yang buta? Hanya orang yang berakal
sehat sajalah yang
dapat mengambil pelajaran.[3]
Filsafat
merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami semua hal yang timbul di dalam keseluruhan
Lingkup pengalaman manusia.
Berfilsafat adalah berpikir,
dan malahan sampai kepada berspekulasi. Filsafat
menghendaki
olah pikir yang sadar, yang
berarti teliti
dan teratur.[4]
Berfilsafat ialah berpikir dengan kesadaran
yang (sangat) tinggi,
berpikir filsafat selain mendasar dan kritis tetapi
juga umum (komprehensif). Filsafat
merupakan akar dari segala pengetahuan manusia
baik pengetahuan ilmiah maupun
pengetahuan non ilmiah.
Tujuan berfilsafat ialah menemukan
kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam.[5]
kemampuan manusia untuk
dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing
menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai nilai-nilai
ajaran Islam. Filsafat
pendidikan Islam membincangkan filsafat tentang
pendidikan bercorak Islam yang
berisi perenungan- perenungan mengenai apa sesungguhnya pendidikan Islam
itu dan bagaimana usaha- usaha
pendidikan dilaksanakan agar berhasil sesuai dengan hukum-hukum Islam. Filsafat pendidikan
sebagai aktifitas
pikiran yang teratur yang
menjadikan filsafat itu sebagai jalan untuk
mengatur, menyelaraskan dan memadukan
proses pendidikan. pokok yakni, Islam, Iman, dan Ihsan.
Ketiganya merupakan satu kesatuan pendidikan
yang penting dan mutlak
ditanamkan pendidik kepada peserta didik
Unsur dasar pendidikan adalah unsur pemberi
dan penerima, unsur tujuan yang baik,
cara atau jalan yang baik,
serta adanya konteks positif. Maka dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam telah banyak memainkan peranannya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, selain itu telah terjadi pula dinamika perkembangan pendidikan Islam di
Indonesia. Salah satu yang amat
strategis dalam dinamika ini
adalah masuknya pendidikan Islam sebagai sub sistem pendidikan
nasional.
Dari pernyataan di atas muncul suatu pertanyaan bahwa apakah dengan adanya
peranan pendidikan Islam dalam dinamika pendidikan di Indonesia berarti unsur-unsur yang menjadi ruang
lingkup dalam pendidikan itu sendiri sudah baik atau berhasil? Dengan demikian, yang menjadi obyek kajian dalam
makalah ini ialah ruang
lingkup filsafat pendidikan Islam.
A. Rumusan Masalah
Berdasrkan permasalahan yang telah diuraikan, berikut ini dirumuskan beberapa permasalahan:
1. Bagaimana Pengertian Epistimologi?
2. Bagaimana Aksiologi Pendidikan Filsafat Pendidikan Islam?
3. Bagaimana
Ontologi Pendidikan dalam Kajian Filsafat Pendidikan Islam?
![]()
BAB II
PEMBAHASAN
4.
Pengertian Epistemologi
Secara linguistik
kata “epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata “Episteme” dengan arti “pengetahuan” dan kata “Logos” berarti “teori, uraian, atau alasan”.
Epistemologi dapat diartikan
sebagai teori tentang pengetahuan
yang dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah theory of
knowledge.[6] Ada
juga yang mengatakan kalau logos berarti
teori. Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, artinya menundukkan, menempatkan, atau meletakkan. Secara harfiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya. Am
Syaifufdin dalam Mujamil menyatakan bahwa epistemologi mencakup
pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana
membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai
ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui,
dan sampai manakah batasannya. Semua
pertanyaan itu dapat diringkas
menjadi dua masalah pokok, masalah sumber ilmu dan masalah benarnya
ilmu.[7]
Epistemologi yaitu pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan diperoleh; apakah dari akal pikiran (aliran
Rasionalisme) atau dari pengalaman pancaindera (aliran Emperisme) atau dari ide-ide (aliran Idealisme) atau dari Tuhan (aliran
Teologis). Juga pemikiran
tentang validitas pengetahuan manusia, artinya
sampai di mana kebenaran kita. Cakupan epistemologi meliputi upaya, cara, langkah-langkah ataupun
metode untuk mendapatkan suatu pengetahuan yang valid, dengan kata lain epistemologi berarti bagaimana mendapatkan pengetahuan dari obyek yang dipikirkan.[8]
Hardono Hadi mendefenisikan epistemologi sebagai cabang
filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat pengetahuan, skop pengetahuan, pengandaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban
atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimilikinya.[9]
Secara terminologi, epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan
dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau sah berlakunya
pengetahuan itu.[10]
Epistemologi sering juga disebut teori pengetahuan
(theory of knowledge). Epistemologi lebih memfokuskan kepada
makna pengetahuan yang berhubungan dengan konsep, sumber,
dan kriteria pengetahuan, jenis
pengetahuan, dan lain sebagainya.
Epistemologi sebagai
cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dari ruang lingkup pengetahuan pra-pra-anggapan dan dasarnya serta realitas dari tuntutan pengetahuan sebenarnya. epistemologi ini adalah nama lain dari logika material atau logika mayor yang membahas dari isi pikiran
manusia, yakni pengetahuan. Brameld mendefenisikan epsitemologi dengan “it is
epistemology that givesthe
teacher the ansurance that he is
conveying the truth to his student”. Maksudnya, epistemologi memberikan
kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran bagi peserta
didiknya. Epistemologi adalah studi tentang
pengetahuan bagaimana
kita mengetahui benda- benda[11]
Epistemologi dikenal sebagai
sub sistem dari filsafat dalam filafat pendidikan. Epistemologi adalah teori pengetahuan yaitu membahas tentang bagaimana
cara mendapatkan pengetahuan dari obyek yang dipikirkan,
yang menjadi obyek pemikiran. Membicarakan epistemologi berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Jadi, meskipun epistemologi merupakan sub sistem filsafat,
namun cakupannya cukup luas. Pengertian tersebut
dapat dipadukan bahwa teori
pengetahuan itu bisa meliputi hakikat, keaslian, sumber, struktur, metode, validitas, unsur,
macam, tumpuan, batas, sasaran,
dasar, pengandaian, kodrat,
pertanggungjawaban dan skop pengetahuan.
Beberapa definisi tersebut
dapat disimpulkan bahwa epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang
terjadinya pengetahuan,
sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode, dan
keshahihan pengetahuan. Objek material dari epistemologi adalah
pengetahuan dan objek formalnya
adalah hakikat pengetahuan itu. Epistemologi adalah pengetahuan
sistematik mengenai pengetahuan. Aspek epistemologi adalah kebenaran
fakta atau kenyataan dari sudut pandang mengapa
dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kebenarannya.
Hal yang dipikirkan dalam wilayah epistemologi adalah tentang hakekat dan seluk beluk ilmu pengetahuan dalam keseluruhan realitasnya, epistemologi merupakan sesuatu
yang amat penting dalam pengembangan humanitas manusia. Hal ini mengingat bahwa dunia ini sarat
dengan berbagai aliran dan ideologi yang secara niscaya tentu berlandaskan pada bagaimana pola dan caranya memandang realitas, baik hakekat maupun strategi dan
sistem yang digunakan yang kesemua ini tidak lain tentu berdasarkan pada landasan epistemologi.[12]
Epistemologi Filsafat
Pendidikan Islam
Sejarah perkembangan epistemologi sejalan dengan perkembangan manusia memperoleh pengetahuan. Berdasarkan pengalaman
manusia, pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : pengetahuan spontan dan pengetahuan reflektif sistematik. Menelusuri jejak perkembangan epistemologi
tidak lepas dari pemikiran manusia pada
era peradaban Yunani Kuno sampai pada peradaban
Eropa dan Amerika Serikat dewasa ini.[13]
Perkembangan epistemologi
berjalan di dalam diakletika antara
pola absolutisasi dan pola relativitasi. Epistemologi filsafat
pendidikan Islam membahas
seluk beluk dan sumber-sumber filsafat pendidikan Islam. Pendidikan Islam bersumber dari Allah swt. Hukum-hukum yang diciptakan Allah swt.
Epistemologi filsafat pendidikan Islam merupakan filsafat
tentang sumber-sumber pendidikan Islam dan seluk-beluk pendidikan. Secara epistemologi, landasan pendidikan Islam mengacu pada fitrah sebagai dasar pengembangan dan inovasi
pendidikan Islam yang
berkarakter, karena pendidikan yang berkarakter
selalu bertolak dari aspek-aspek kemanusiaan. Epistemologi diperlukan dalam filsafat pendidikan
Islam antara lain dalam hubungannya dengan dasar kurikulum yaitu menyangkut materi yang bagaimana
serta bagaimana cara menyampaikan pengetahuan kepada anak didik di sekolah.
Pertanyaan mengenai mengapa salah satu mata pelajaran dijadikan pelajaran wajib dan mengapa pelajaran lain dijadikan sebagai mata pelajaran pilihan juga merupakan penerapan epistemologi dalam bidang pendidikan Islam. Beberapa contoh lain adalah menyangkut pertanyaan berikut:
metode mana yang paling tepat digunakan dalam proses pendidikan? Dengan sistem pendidikan yang mana kegiatan
pendidikan dilaksanakan untuk mendapatkan nilai pendidikan yang benar?. Lahirnya Kurikulum Merdeka Belajar adalah salah satu usaha baik dari pemerintah untuk memperbaiki kualitas
pendidikan di Indonesia,
baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Melihat kondisi
ini, dilihat dari sudut epistemologi adalah seharusnya pengetahuan apa yang harus diberikan
kepada peserta didik?. Hal ini tentu terkait dengan pengetahuan kita akan
kebutuhan yang diperlukan peserta didik. Harus mengetahui dan memahami berbagai
kemampuan atau kelebihan atau
kecerdasan yang dimiliki anak, tidak bisa semua siswa diberlakukan sama. Sebagaimana
firman Allah swt. dalam QS Fatir/35
: 19
وَمَا يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ ۙ
Terjemahan
Tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.[14]
Bagaimana
cara menyampaikannya? Pertanyaan
ini terkait dengan kompetensi guru serta metode atau gaya pengajaran yang
mereka terapkan. Cara penyampaian cukup mempengaruhi motivasi peserta didik dalam belajar. Salah satu contoh sekolah dasar kreatif yang memberikan
pengajaran yang unik. Kadang guru memberikan
pendidikan dengan outbound, dengan bentuk dongeng
atau cerita, atau dengan
memberikan pesan moral dan
mengajak untuk berpikir rasional. Untuk membenahi konsep pendidikan Islam diperlukan pola baru dalam konteks hubungan diantara epistemologi
filsafat. Pola baru ini dimaksudkan agar hubungan semuanya lebih sesuai dengan dinamika sosial- budaya yang berkembang,
peranan epistemologi filsafat
pendidikan Islam yang mendasari berbagai aspek pendidikan Islam ini sudah barang tentu merupakan kontribusi
utama bagi pengembangan dan pembinaan
pendidikan Islam. Epistemologi berfungsi dan
bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh pendidikan Islam. Pendidikan Islam harus berkembang terus. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi
terhadap konsep-konsep atau teori-teori
pendidikan Islam. Penguasaan epistemologi, terutama cara-cara
memperoleh pengetahuan sangat
membantu para pihak yang bergelut
dalam pengembangan pendidikan Islam untuk melakukan koreksi kritis terhadap bangunan
pemikiran yang diajukan
orang lain maupun dirinya sendirinya.
Epistemologi merupakan pendekatan yang berbasis proses, maka epistemologi melahirkan konsekuensi-konsekuensi logis dan problematika yang
sangat kompleks, yaitu 1) Pendidikan Islam seringkali dikesankan sebagai pendidikan yang
tradisional dan konservatif, hal ini wajar karena orang memandang bahwa kegiatan pendidikan Islam
dihinggapi oleh lemahnya penggunaan metodologi
pembelajaran yang cenderung tidak menarik perhatian
dan memberdayakan. 2) Pendidikan Islam terasa kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah
pengetahuan agama yang bersifat kognitif
menjadi suatu “makna dan nilai” yang perlu di internalisasikan dalam diri seseorang lewat berbagai cara, media dan forum. 3) Metodologi pengajaran agama berjalan secara
konvensional tradisional, yakni menitikberatkan pada aspek korespondensi tekstual yang lebih
menekankan yang sudah ada pada
kemampuan anak didik untuk menghafal teks-teks keagamaan
daripada isu-isu sosial keagamaan yang dihadapi pada era modern seperti
kriminalitas, kesenjangan sosial dan lain lain.
4) Pengajaran agama yang bersandar pada bentuk metodologi yang bersifat statis indoktrinatif-doktriner.[15]
Epistemologi merupakan ilmu
yang membahas tentang hal-hal yang
bersangkutan dengan pengetahuan baik itu “bagaimana cara mendapatkan”, “bagaimana alur/seluk beluk”, atau “bagaimana metode” dalam mendapat sebuah
ilmu pengetahuan dalam pendidikan. Sekaitan dengan pendidikan Islam, kajian epistemologi menekankan pada upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan pendidikan Islam.
Aktivitas berfikir dalam epistemologi adalah
aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreatifitas keilmuan
ke-Islaman dibanding ontologi dan aksiologi.
Sistem pendidikan merupakan
rangkaian dari sub sistem-sub sistem atau unsur-unsur pendidikan yang saling terkait dalam mewujudkan keberhasilannya.
Menurut Fuad Ihsan, Ada tujuan, kurikulum, materi,
metode, pendidik, peserta didik, sarana, alat, dan pendekatan.[16] Keberadan satu unsur membutuhkan
keberadaan unsur yang lain, tanpa keberadaan salah satu di antara unsur-unsur itu proses pendidikan menjadi
terhalang, sehingga mengalami kegagalan.
Ketika kita berbicara dalam tataran sistem pendidikan Islam, maka sub sistem atau ruang lingkupnya adalah tujuan
pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam, materi pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, pendidik, peserta
didik, sarana pendidikan Islam, alat pendidikan Islam,
dan pendekatan pendidikan Islam.
Persoalan epistemologis pendidikan dalam kajian
filsafat pendidikan Islam tidak cukup dengan jawaban yang strategis sebab secara
aktual persoalan epistemologis selalu berkembang menjadi masalah-masalah yang
harus segera diselesaikan oleh para intelektual muslim melalui analisis dan metodologi yang tepat. Persoalan epistemologis pendidikan yang menjadi masalah aktual juga mengkondisikan dengan tantangan perubahan
zaman di setiap generasi yang salah satunya
adalah teknologi informasi.
2.
Pengertian
Aksiologi Pendidikan Filsafat
Pendidikan Islam
Menurut Kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah (1)
kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, (2) kajian tentang nilai khususnya
etika. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak, dalam pengertian yang lebih
sempit seperti baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih
luas mencakup sebagai
tambahanSesegala bentuk kewajiban, kebenaran dan kesucian. Nilai sebagai kata benda konkret. Contohnya ketika kita
berkata sebuah nilai atau nilai-nilai. Ia sering dipakai untuk
merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainya atau nilai dia. nilai
juga dipakai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai.
Dari definisi aksiologi di atas, terlihat dengan jelas bahwa permasalahan
utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki
manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.Teori
tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada masalah etika dan estetika.
Aksiologi ilmu terdiri dari nilai-nilai yang bersifat normatif. Dalam
pembahasan aksiologi, nilai menjadi fokus utama. Nilai dipahami sebagai
pandangan, cita-cita, adat, kebiasaan, dan lain-lain yang menimbulkan
tanggapan emosional pada seseorang atau masyarakat tertentu. Dalam filsafat,
nilai akan berkaitan dengan logika, etika, estetika. Logika akan menjawab
tentang persoalan nilai kebenaran sehingga dengan logika akan diperoleh sebuah
keruntutan ilmu pengetahuan.
Persoalan aksiologi
pendidikan filsafat pendidikan Islam adalah persoalan akhir yang menyangkut tentang manfaat dan kegunaan dari
mempelajari pendidikan Islam itu
sendiri. Persoalan aksiologi menyangkut nilai-nilai tentang pendidikan Islam
itu sendiri dengan maksud menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam
kehidupan manusia, menjaga dan
membina di dalam kepribadiannya baik yang bersifat spiritual maupun yang berwujud.[17]
Nilai dalam kaitannya dengan pendidikan Islam
terdiri atas dua pendekatan yakni etika dan estetika yang memberikan makna bahwa
objek kajian dan rangkaian proses yang dilakukan harus memiliki nilai dan tidak
merusak nilai-nilai yang ada, baik nilai kemanusiaan, maupun nilai ketuhanan (agama). Pendekatan ini sesungguhnya
merupakan alat kontrol yang efektif
dalam melihat kebermaknaan dan ketidak bermaknaan atau ideal dan tidak idealnya
konsep pendidikan yang ditawarkan bagi umat manusia.
Sumber nilai yang berlaku
dalam pranata sosial kehidupan manusia dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu :
Nilai Ilahiyah
Nilai ilahiyah merupakan
nilai yang dititahkan Tuhan melalui para Rasul-Nya yang berbentuk takwa,
iman dan adil serta diabadikan dalam wahyu Ilahi. Nilai-nilai Ilahiyah selamanya
tidak mengalami perubahan Nilai Ilahiyah mempunyai
2 jalur, yaitu:
a.
Nilai yang bersumber dari sifat-sifat Allah sebanyak 99
yang tertuang dalam “al-Asmaul Husna”
yakni nama-nama yang indah. Nama-nama itu pada hakikatnya telah menyatu pada potensi dasar
manusia yang selanjutnya disebut fitrah; dan
b.
Nilai yang bersumber dari hukum-hukum Allah, baik berupa
Quraniyah maupun kauniyah.[18]
Menurut Khotimah, nilai-nilai yang akan diajarkan dalam pendidikan Islam dituntut
mampu membentuk dasar moral dan etis kehidupan berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan
(iman). Nilai moral absolut hanya pada Allah
Yang
Maha kekal dan tidak terikat pada ruang dan waktu. Allah senatiasa menghendaki
hamba-Nya menegakkan
keadilan dan kebenaran, kasih sayang, kesucian karena Allah itu Maha Adil, Maha Benar, Maha Pengasih, Penyayang, dan Maha Suci. [19]
Nilai spiritual keilahian
manusia melekat erat pada pendidikan, maka hakikat pendidikan adalah masalah manusia dalam kesejatian
dirinya sebagai makhluk Tuhan. Dengan sifat spiritual
keilahian, manusia justru mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan dan pengembangan dirinya sebagai manusia
melalui seluruh rangkaian kegiatan
pendidikan berhakikat memanusiakan
manusia sebagai makhluk Tuhan. Nilai-nilai dan prinsip umum yang kekal (extend) dalam perspektif Islam adalah wahyu.
![]()
Nilai Insaniyah
Nilai Insaniyah tumbuh atas
kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Nilai ini bersifat dinamis. Sedangkan
keberlakuan dan kebenarannya relatif (nisbi) yang dibatasi oleh ruang dan
waktu. Nilai-nilai Insaniyah yang kemudian melembaga
menjadi tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Karena kecenderungan tradisi tetap
mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan tata nilai, kenyataan ikatan-ikatan tradisional sering menjadi
penghambat perkembangan peradaban
dan kemajuan manusia.
Muhmidayeli juga
menyatakan bahwa secara makro, apa
yang menjadi objek filsafat yaitu
ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan manusia
merupakan objek pemikiran
filsafat pendidikan. Secara mikro yang menjadi objek pemikiran atau ruang lingkup
filsafat pendidikan sebagai
berikut
1.
Merumuskan secara tegas sifat hakikat
pendidikan;
2.
Merumuskan sifat hakikat
manusia, sebagai subjek
dan objek pendidikan;
3. Merumuskan secara
tegas hubungan antara
filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaaan;
4.
Merumuskan hubungan antara
filsafat, filsafat pendidikan , dan teori pendidikan;
5. Merumuskan hubungan
antara filsafat Negara, filsafat
pendidikan , dan politik pendidikan;
6. Merumuskan sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan
pendidikan.[20]
Dengan demikian ruang lingkup
filsafat pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan Islam, seperti masalah
tujuan pendidikan Islam, masalah guru, kurikulum, metode dan lingkungan.
Secara umum ruang lingkup pembahasan filsafat
pendidikan Islam ini adalah pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu,
menyeluruh, dan universal mengenai konsep-konsep yang berkaitan dengan
pendidikan atas dasar ajaran
Islam.
Persoalan-persoalan
pendidikan, berarti awal dari
permasalahan pendidikan yang menuntut jawaban. Dari hasil bacaan penulis,
persoalan pendidikan dalam kajian filsafat Islam,
penulis bagi ke dalam tiga kategorisasi persoalan utama, yaitu persoalan
pendidikan pada aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Aksiologi pada
dasarnya bersifat ide dan karena itu ia abstrak dan tidak dapat disentuh
oleh panca indra.
3.
Pengertian Ontologi Pendidikan dalam Kajian
Filsafat Pendidikan Islam
Persoalan ontologi merupakan
persoalan “ada” atau hakekat, substansi awal dalam filsafat pendidikan Islam. Lazimnya, persoalan ontologi selalu
dimulai dengan pertanyaan “apa”, seperti contoh apa itu pendidikan,
apa itu filsafat, dan sebagainya. Persoalan ini dianggap penting
sebagai pijakan awal untuk mengkaji persoalan-persoalan yang akan muncul berikutnya. Islam sebagai agama
yang kita pedomani mempersyaratkan ketauhidan
sebagai awal membuka
pengetahuan-pengetahuan selanjutnya. Syarat ini diwujudkan dengan dua kalimat syahadat sebagai ikrar kesetiaan dan janji
serta pengakuan manusia kepada sang pencipta-Nya atas pengetahuan
awal yang dimilikinya. Nurcholis Madjid menurut Hasan Sulaiman Fathiyah, berpendapat
makna pokok kalimat syahadat adalah pembebasan dari belenggu kepercayaan, disusul kepercayaan kepada Allah, Tuhan
yang sebenarnya, demi keteguhan
dan kelestarian kebebasan itu sendiri.[21]
Pengetahuan yang dimaksud
adalah tiada Tuhan yang mencipta selain Allah Swt, dan Muhammad Saw., sebagai utusan pembawa pengetahuan tersebut ke dunia. Informasi
tentang syarat yang
diikrarkan oleh manusia kepada pencipta-Nya tersebut membawa ke persoalan
pendidikan, tentang bagaimana
bentuk setia, janji dan pengakuan manusia, dalam pendidikan Islam.
Bila dilihat dari fungsinya, maka filsafat pendidikan islam merupakan pemikiran mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan islam. Oleh karena itu, filsafat ini juga memberikan gambaran tentang sampai dimana proses tersebut dapat direncanakan dan dalam ruang lingkup serta dimensi bagaimana
proses tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam seharusnya bertugas
dalam 3 demensi,
yakni sebagai berikut
:
![]()
1. Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan pada proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan ajaran islam.
2. Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelksanaan tersebut.
3. Melakukan evaluasi terhadap
metode dari proses pendidikan tersebut
Ontologi adalah
ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate
reality baik yang berbentuk jasmani atau konkret maupun rohani atau
abstrak. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahankeilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada
dalam jangkauanpengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas
pra-pengalaman dan pasca-pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuanilmu.
Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuandari sekian
banyak pengetahuan yang mencoba
menelaah kehidupan dalam batas ontologistertentu.Penetapan lingkup batas penelaahan
keilmuan yang bersifatempiris ini adalah
konsisten dengan asas epistemologi keilmuan yangmensyaratkan adanya verifikasi
secara empiris dalam proses penemuandan penyusunan pernyataan yang bersifat
benar secara ilmiah.
![]()
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filsafat Pendidikan Islam adalah
suatu alat yang digunakan untuk berfikir
secara mendalam dan mendasar dalam rangka menentukan arah visi, misi,
kurikulum metode belajar hingga
evaluasi yang akan digunakan dalam pelaksaan pendidikan islam. Agar
terciptanya pendidikan islam yang ideal dan holistik
Berdasarkan hasil pemaparan
dan pengkajian terhadap makalah ini, penulis
merumuskan kesimpulan sebagai
berikut:
1. Persoalan ontologi
pendidikan dalam kajian filsafat pendidikan Islam terbagi atas tiga persoalan: pendidikan ber-Islam yakni
mengupayakan pembimbingan, pendidikan dan pembinaan dalam mengenalkan
Islam secara keseluruhan kepada peserta didik;
pendidikan ber-Iman
yakni mengupayakan totalitas
ajaran Islam untuk
ditanamkan kepada anak melalui keimanan kepada Allah swt dengan
dasar-dasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syari’ah; dan pendidikan ber-Ihsan yakni menanamkan keyakinan suasana
hati dan perilaku peserta didik untuk senantiasa merasa dekat dengan Tuhan sehingga tindakannya sesuai dengan aturan
Allah swt.
2. Persoalan epistemologi
pendidikan dalam kajian filsafat pendidikan Islam adalah proses pendidikan dalam tataran sistem
pendidikan Islam, yang ruang lingkupnya adalah tujuan pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam, materi
pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, pendidik,
peserta didik, sarana pendidikan Islam, alat pendidikan Islam, dan pendekatan pendidikan Islam.
3. Persoalan aksiologi
pendidikan dalam kajian filsafat pendidikan Islam menyangkut nilai-nilai tentang
pendidikan Islam itu sendiri dengan
maksud menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia,
menjaga dan membina di dalam kepribadiannya baik yang
bersifat spiritual maupun yang berwujud yang terbagi atas dua nilai utama
yaitu nilai Ilahiyah
dan nilai Insaniyah.
2, Saran
Makalah ini dapat
bermanfaat jika di baca dan dikembangkan
tulisannnya dan dapat bermanfaat pula kepada pembaca ketika tulisan ini
dijadikan salah satu rujukan tulisan, bila terdapat kekurangan makna serta kurang berkualitas disarankan untuk dapat dilengkapi guna kesempurnaan
makalah ini serta menambah khasanah tulisan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah
Idi & Jalaluddin Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat dan
Pendidikan. Cet.IV,
Yokyakarta: Ar- Ruzz Media, 2012
Baki, ,
Nasir. A. Filsafat Pendidikan Islam. Cet.1: Makassar:
Alauddin University Press, 2008
Barnadib Imam, Filsafat
Pendidikan : Sistem dan Metode. Yokyakarta: Ombak, 2013
Departemen Agama RI,
Al-Qur’an dan Terjemahnya Cet. IX; Bandung: Diponegoro, 2007
Hidayat, Rahmat dan Henny SN, Filsafat Pendidikan Islam; Membangun Konsep Pendidikan Islam, Cet. 1; Medan:
LPPI. 2018
Hidayat, Rahmat. “Epistemologi Pendidikan Islam: Sistem, Kurikulum, Pembaharuan Dan Upaya Membangun Epistemologi Pendidikan Islam”, Jurnal Almufida
Vol. I No. 1
Juli-Desember 2016, http://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/almufida/article/download/104/99, laman diakses tanggal
27 Maret 2023.
Jalaludin, dan Usman Said. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, Cet. I; Jakarta:
Raja Grafindo Persada. 2001
Jalaluddin, Filsafat Pendidikan
Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.
Khotimah, Indah Husnul. (2015).
“Dimensi Aksiologis Pendidikan Islam”, https://www.researchgate.net/profile/Indah_Husnul_Khotimah/publication/329528105_DIMENSI_AKSIOLOGIS_PENDIDIKAN_ISLAM/links/5c17c59ba6fdcc494ffc5121/D IMENSI-AKSIOLOGIS-PENDIDIKAN-ISLAM.pdf?origin=publication_detail.
Putra Haidar
Daulay. Pendidikan Islam dalam
Perspektif Filsafat. Cet. 1; Jakarta: Kencana,
2014
Qomar, Mujamil. Epistemologi Pendidikan Islam: dari
Metode Rasional Hingga Metode Kritik. Jakarta: Erlangga, 2005.
Rofiq, M. Nafiur. (2012). “Peranan Filsafat Ilmu Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan”, FALASIFA:
Jurnal Studi Keislaman, https://ejournal.inaifas.ac.id/ index.php/falasifa/article/download/112/77.
[1] Haidar Putra Daulay. Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat. (Cet. 1; Jakarta:
Kencana, 2014). h. 9
[2] Sutrisno dan Muhyidin Albarobis, Pendidikan Islam ´Berbasis
Problem Sosial (cet.I; Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h.15
[3] Departemen Agama RI, Al-Qur’an
dan Terjemahnya (Cet. IX; Bandung: Diponegoro, 2007), h. 543.
[4] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan : Sistem dan Metode. (Yokyakarta: Ombak, 2013). h. 7
[5]Ahmad
Tafsir, Filsafat Ilmu Menguri Ontologi,
Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan . (Cet. 1; Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2004). h. 80.
[6] Arif Rohman, dkk. Epistemologi dan Logika Filsafat Untuk Pengembangan Pendidikan. (Cet. 1; Yokyakarta: UNY
Press & Aswaja Pressindo, 2014), h.
13
[7]Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam: dari Metode
Rasional Hingga Metode Kritik, (Jakarta: Erlangga, 2005), h. 4.
[8] Nasir.
A. Baki. Filsafat Pendidikan Islam. (Cet.1: Makassar:
Alauddin University Press). h. 86
[9] Arif Rohman,
dkk. Epistemologi dan Logika Filsafat Untuk Pengembangan Pendidikan. h.13
[10] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, h, 22
[11]Jalaluddin & Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat dan Pendidikan. (Cet.IV, Yokyakarta: Ar- Ruzz Media, 2012) h. 128
[12] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, (Cet.2, Bandung: Refika Aditama, 2013) h. 79
[13] Mujammil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam:dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, h. 27
[14] Departemen Agama RI, Al-Qur’an
dan Terjemahnya (Cet. IX; Bandung: Diponegoro, 2007), h. 471.
[15] Mujtahid, Reformulasi Pendidikan Islam; Meretas
Mindset Baru, Meraih Paradigma Unggul (Malang: UIN-Maliki Press, 2011), h. 37.
[16] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, h, 58
[17] Mujtahid, Reformulasi Pendidikan Islam, h,
92
[18] Mohammad Noor syam.. Filsafat Pendidikan dan Dasar Fisafat,
Pendidikan pancasila.
(Surabaya: Usaha Nasional, 1994), h.
93
[19] Khotimah,
www.researchgate.net
[20] Muhmidayeli. Filsafat Pendidikan Islam. Pekanbaru
LSFK2P, 2005. h. 12
[21]Hasan Sulaiman Fathiyah, Aliran–aliran dalam Pendidikan. Semarang: Dina Utama,
1993,
h. 48









