Sutarjo Paputungan, M.Pd.I
Guru
adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pemimpin yang dapat
menciptakan iklim belajar yang menarik, memberi rasa aman, nyaman dan kondusif
dalam kelas. Keberadaannya di tengah-tengah peserta didik dapat mencairkan suasana kebekuan, kekakuan,
dan kejenuhan belajar yang terasa berat diterima oleh para peserta didik. Kondisi seperti itu tentunya memerlukan
keterampilan dari seorang guru, menyadari hal itu maka sayta menganggap bahwa keberadaan guru yang menjadi idola sangat diperlukan.
Guru dengan segala kelebihan dan
kekurangannya memiliki peranan penting bagi peserta didik. Apapun pandangan peserta
didik tentang guru, entah itu killer, kejam, pelit nilai, sabar, atau
apapun itu sebutan, tetapi punya andil terhadap masa depan peserta didik. Tidak
pernah mengharapkan balasan apapun dari peserta didik. Setiap guru memiliki cara mengajar yang berbeda-beda. Ada
yang sangat serius tanpa rasa humor, dan ada pula yang sangat humoris. Kalau
kita tanya kepada peserta didik guru mana yang menjadi idola atau favorit mereka tentu jawabnya adalah guru yang mengajar
dengan humor. Walaupun terdapat nuansa humor namun tidak menghilangkan nuansa
keseriusan dan kedisiplinan seperti contoh Pak Djafar Muhammad, Kepala Rumpun
jurusan listrik, Sudah
diketahui bahwa materi pelajaran memiliki ciri yaitu membosankan dalam
muatannya di mana ia mengharuskan konsentrasi pikiran dan hati. Kita
sebagai guru akan menemukan peserta didik menguras seluruh indranya untuk
menguasai bahan pelajaran yang kita sampaikan.
Saat saya sekolah di jenjang SMA dulu namanya STM Cokroaminoto, Kotamobagu, (Sekolah Teknik Menengah) ada sosok guru Jurusan Kelistrikan namanya Pak Djafar Muhammad. Kalau melihat sosoknya maka akan menilai
kalau beliau adalah guru yang galak. Kalau dilihat pelajarannya maka beliau
guru yang membuat peserta didik tegang.
Ternyata semua tebakan saya salah. Pak Djafar Muhammad,
setiap masuk ke kelas langsung menyapa para peserta didik. Setiap peserta didik
saat Pak Djafar Muhammad, lagi masuk
maka akan selalu ditanya apa yang sedang dilakukan, sehingga timbul obrolan
kecil penghantar pelajaran. Saat di STM Cokroaminoto Kotamobagu, saya memilih jurusan
Listrik, sehinga saat memulai pelajaran Kelistrikan juga peserta didik dibuat nyaman dengan candaan-candaan
kecil di awal pembelajaran. Kemudian memberikan pertanyaan urut dengan menyebut
nama kami satu persatu yang membuat kami lebih dekat dengan Pak Djafar Muhammad. Kalau jawaban kami benar maka akan ada pujian plus
humor dari beliau. Kalau pun salah juga ada candaan yang membuat kami
termotivasi. Pelajaran kelistrikan ditangan Pak
Djafar Muhammad, menjadi pelajaran yang menyenangkan.
Pak Jufri Panigoro, guru dan
sahabat, guru yang gaul menurut saya. Mudah bergaul dengan peserta didik dan
bahkan akrab. Kami sering berkunjung ke rumah beliau untuk belajar tentang
pelajaran listrik.
Setelah selesai belajar, kamipun ngobrol santai sembari bercanda. Beliau sangat
ramah. Saya sering
disuruh menulis materi pelajaran Listrik di papan tulis. Karena tulisan saya lebih bagus daripada teman-teman. Setelah selesai menulis di papan tulis, saya langsung menulis materi di buku tulis. Saat ini beliau
telah menyelesaikan gelar Magisternya. Saya yang pernah sebagai anak didiknya sangat bangga memiliki guru bergelar Magister. Saya belajar dari beliau tentang
bagaimana seorang guru mampu menempatkan diri sebagai seorang sahabat di
hadapan peserta didik. Berbicara dengan bahasa anak muda. Tentu dengan
batasan-batasan tertentu. Peserta didik akan lebih terbuka ketika guru mampu
menjadi pendengar dan solusi bagi permasalahan anak didiknya.
Pak Adam
Paputungan, guru yang mengajari saya jadi guru. Hal yang selalu saya ingat dan
saya cerita ke anak didik saya di sekolah sampai hari ini. Pak Adam Paputungan adalah
guru Matematika, Kebiasaan beliau ketika mengajar, adalah menyuruh peserta
didiknya membaca buku terlebih dahulu sebelum beliau menjelaskan. Waktu baca
kurang lebih 15 menit. Setelah itu beliau keluar kelas selama peserta didik
membaca/belajar. Masuk lagi dan sering menyuruh saya maju menuliskan dipapan
tulis. Saya diberi kesempatan menjelaskan materi semampunya. Seingat saya setiap
pertemuan dua sampai tiga kali saya disuruh maju mengerjakan soal materi
pelajaran. Dulu saat saya maju menjelaskan materi di depan kelas, saya tidak
merasa bahwa hal ini sangat berguna di masa depan. Hari ini saya sangat merasakan
bahwa apa yang beliau ajarkan kepada saya, sangat berguna ketika saya guru.
Ibu Nurhayati Laneto, guru Pendidikan Agama
Islam sekaligus guru spiritual
saya. Beliau adalah orang spesial bagi saya. Beliau menemani saya dan
teman-teman saya dalam keseharian di sekolah dan masjid sekolah. Setiap ba’da sholat
Dzuhur, beliau
memberikan halaqah tentang ilmu agama Islam. Kerangka yang beliau
tanamkan kepada saya, sampai hari ini masih menancap kuat. Logika dan dalil
menjadi satu yakni motto “Perjuangan membutuhkan pengorbanan yang besar,
untuk itu janganlah berhenti berjuang sebelum berhasil”. yang saya selalu pakai dalam
menyelesaikan setiap masalah sampai hari ini. Yakni Kerangka ideologis yang didasarkan
pada agama. Saya belajar dari beliau bahwa jangan berhenti untuk
belajar.
Terlalu
singkat ruangan ini untuk menuliskan satu per satu tentang kontribusi guru
kita. Canda atau humor yang dilakukan seorang guru adalah senda gurau
dengan peserta didik tanpa mencela dan menghinanya. Bila dalam mengajar timbul kedekatan
dengan peserta didik, maka kehadiran kita sebagai guru pasti akan selalu
dinantikan dan ini yang dikatakan sebagai guruku Idolaku.









