Mengarustamakan Moderasi Beragama Kegiatan PPKB GPAI Provinsi Gorontalo

Grand Q Hotel Gorontalo, 27 - 29 Januari 2022.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, April 8, 2023

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM, (Sutarjo Paputungan)

 

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

 

 


 

 

 

MAKALAH

 

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Filsafat Pendidikan Islam Pada Program Studi Dirasah Islamiyah

 Program Pascasarjana (S3) UIN Alauddin Makassar

 

 

 

Oleh

      Sutarjo  Paputungan

NIM: 80100322023

 

 

 

 

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. H. Moh. Natsir Mahmud, M.A.

Dr. H. A. Marjuni, M.Pd.I

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI DIRASAH ISLAMIYAH (S3)                           PROGRAM  PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

Text Box: i2023


DAFTAR ISI

 

 

HALAMAN JUDUL  ...................................................................     i

 

DAFTAR ISI.................................................................................      ii

i

BAB I     PENDAHULUAN.........................................................      1

 

A. Latar Belakang Masalah .........................................................      1

 

B. Rumusan Masalah...................................................................       2

2

BAB II    PEMBAHASAN

1.    Pengertian Epistemologi......................................................   3                        

 

 

 

3

2. Pengertian Aksiologi Pendidikan Filsafat Pendidikan    Islam...................................................................................    8       

3. Pengertian Ontologi Pendidikan dalam Kajian Filsafat Pendidikan     Islam...............................................................................................        11                            

  

 

 

 

 

BAB III PENUTUP..........................................................................     13

 

 A. Kesimpulan........................................................................               13        

 

   B. Saran ..................................................................................... .          13

1

DAFTAR PUSTAKA........................................................................    14

 

Text Box: ii


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Masalah

Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berpikir merupakan obor pencerahan peradaban di mana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan dikembangkan manusia untuk meningktkan kualitas hidupnya dengan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan penerapan itulah yang menghasilan kapak dan batu zaman dulu sampai komputer zaman  ini.

Filsafat adalah berpikir secara mendalam tentang hakekat sesuatu. Kajian filsafat adalah kajian tentang esensi apa yang menjadi dibalik kenyataan yang ada[1] Memahami filsafat dengan baik maka orang akan dapat mengembangkan secara konsisten ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari. Filsafat mengkaji dan memikirkan tentang hakikat segala sesuatu secara menyeluruh, sistematis, terpadu, universal dan radikal yang hasilnya menjadi pedoman dan arah dari perkembangan ilmu-ilmu yang bersangkutan. Filsafat merupakan acuan untuk meningkatkan mutu pendidikan, disadari atau tidak, nampaknya dapat mempengaruhi situasi dan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini, semuanya menumpukan seluruh harapan kepada pendidikan, karena sadar bahwa hanya melalui pendidikan dapat memperbaiki hidup[2]. Firman Allah swt. dalam QS. Ar-Rad/13: 19:

 

۞ اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِۙ

 

Terjemahan

Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad)

dari Tuhanmu adalah kebenaran sama dengan orang yang buta? Hanya orang yang berakal

sehat sajalah yang dapat mengambil pelajaran.[3]

 

Filsafat merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami semua hal yang timbul di dalam keseluruhan

Lingkup pengalaman manusia. Berfilsafat adalah berpikir, dan  malahan sampai kepada berspekulasi. Filsafat

menghendaki olah pikir yang sadar, yang berarti                                   teliti dan teratur.[4] Berfilsafat ialah berpikir dengan kesadaran

yang (sangat) tinggi, berpikir  filsafat selain mendasar dan kritis tetapi juga umum (komprehensif). Filsafat

merupakan akar dari segala pengetahuan manusia baik pengetahuan ilmiah maupun pengetahuan non ilmiah.

Text Box: 1Tujuan berfilsafat ialah menemukan  kebenaran yang sebenarnya,   yang terdalam.[5] kemampuan manusia untuk

dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia    muslim yang seluruh  pribadinya  dijiwai nilai-nilai

ajaran Islam. Filsafat pendidikan Islam membincangkan filsafat tentang pendidikan  bercorak Islam  yang

berisi perenungan- perenungan mengenai apa sesungguhnya  pendidikan  Islam itu dan bagaimana usaha- usaha

pendidikan dilaksanakan agar berhasil sesuai dengan hukum-hukum Islam. Filsafat pendidikan sebagai aktifitas

pikiran yang teratur  yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan untuk             mengatur, menyelaraskan dan memadukan

 proses pendidikan. pokok yakni, Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya merupakan satu kesatuan pendidikan

yang penting dan mutlak ditanamkan pendidik kepada peserta didik

Unsur dasar pendidikan adalah unsur pemberi dan penerima, unsur tujuan yang baik, cara atau jalan yang baik, serta adanya konteks positif.  Maka dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam telah banyak memainkan peranannya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, selain itu telah terjadi pula dinamika perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Salah satu yang amat strategis dalam dinamika ini adalah masuknya pendidikan Islam sebagai sub sistem      pendidikan nasional.

Dari pernyataan di atas muncul suatu pertanyaan bahwa apakah dengan adanya peranan pendidikan Islam dalam dinamika pendidikan di Indonesia berarti unsur-unsur yang menjadi ruang lingkup dalam pendidikan itu sendiri sudah baik atau berhasil? Dengan demikian, yang menjadi obyek kajian dalam makalah ini ialah ruang lingkup filsafat pendidikan Islam.

 

A.  Rumusan Masalah

Berdasrkan permasalahan yang telah diuraikan, berikut ini dirumuskan beberapa permasalahan:

1.    Bagaimana Pengertian  Epistimologi?

2.    Bagaimana Aksiologi Pendidikan Filsafat Pendidikan Islam?

3.    Bagaimana Ontologi Pendidikan dalam Kajian Filsafat Pendidikan Islam?

 

Text Box: 2



BAB II

     PEMBAHASAN

4.        Pengertian Epistemologi

Secara linguistik kata “epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu: kata “Episteme” dengan arti “pengetahuan” dan kata “Logos” berarti “teori, uraian, atau alasan”. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan yang dalam bahasa Inggris dipergunakan istilah theory of knowledge.[6] Ada juga yang mengatakan kalau logos berarti teori. Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, artinya menundukkan, menempatkan, atau meletakkan. Secara harfiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya.  Am Syaifufdin dalam Mujamil menyatakan bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai manakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkas menjadi dua masalah pokok, masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.[7]

Epistemologi yaitu pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan diperoleh; apakah dari akal pikiran (aliran Rasionalisme) atau dari pengalaman pancaindera (aliran Emperisme) atau dari ide-ide (aliran Idealisme) atau dari Tuhan (aliran Teologis). Juga pemikiran tentang validitas pengetahuan manusia, artinya sampai di mana kebenaran kita. Cakupan epistemologi meliputi upaya, cara, langkah-langkah ataupun metode untuk mendapatkan suatu pengetahuan yang valid, dengan kata lain epistemologi berarti bagaimana mendapatkan pengetahuan dari obyek yang dipikirkan.[8]

Text Box: 3Hardono Hadi mendefenisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat pengetahuan, skop pengetahuan, pengandaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimilikinya.[9]

Secara terminologi, epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau sah berlakunya pengetahuan itu.[10] Epistemologi sering juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Epistemologi lebih memfokuskan kepada makna pengetahuan yang berhubungan dengan konsep, sumber, dan    kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan, dan lain sebagainya.

Epistemologi sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dari ruang lingkup pengetahuan pra-pra-anggapan dan dasarnya serta realitas dari tuntutan pengetahuan sebenarnya. epistemologi ini adalah nama lain dari logika material atau logika mayor yang membahas dari isi pikiran manusia, yakni pengetahuan. Brameld mendefenisikan epsitemologi dengan “it is epistemology that givesthe teacher the ansurance that he is conveying the truth to his student”. Maksudnya, epistemologi memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran bagi peserta didiknya. Epistemologi adalah studi tentang pengetahuan bagaimana kita mengetahui benda- benda[11] Epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat dalam filafat pendidikan. Epistemologi adalah teori pengetahuan yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari obyek yang dipikirkan, yang menjadi obyek pemikiran. Membicarakan epistemologi berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Jadi, meskipun epistemologi merupakan sub sistem filsafat, namun cakupannya cukup luas. Pengertian tersebut dapat dipadukan bahwa teori pengetahuan itu bisa meliputi hakikat, keaslian, sumber, struktur, metode, validitas, unsur, macam, tumpuan, batas, sasaran, dasar, pengandaian, kodrat, pertanggungjawaban dan skop pengetahuan.

Beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode, dan keshahihan pengetahuan. Objek material dari epistemologi adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta atau kenyataan dari sudut pandang mengapa dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kebenarannya.

Text Box: 4Hal yang dipikirkan dalam wilayah epistemologi adalah tentang hakekat dan seluk beluk ilmu pengetahuan dalam keseluruhan realitasnya, epistemologi merupakan sesuatu yang amat penting dalam pengembangan humanitas manusia. Hal ini mengingat bahwa dunia ini sarat dengan berbagai aliran dan ideologi yang secara niscaya tentu berlandaskan pada bagaimana pola dan caranya memandang realitas, baik hakekat maupun strategi dan sistem yang digunakan yang kesemua ini tidak lain tentu berdasarkan pada landasan epistemologi.[12]

Epistemologi Filsafat Pendidikan Islam

Sejarah perkembangan epistemologi sejalan dengan perkembangan manusia memperoleh pengetahuan. Berdasarkan pengalaman manusia, pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu : pengetahuan spontan dan pengetahuan reflektif sistematik. Menelusuri jejak perkembangan epistemologi tidak lepas dari pemikiran manusia pada era peradaban Yunani Kuno sampai pada peradaban Eropa dan Amerika Serikat dewasa ini.[13]  Perkembangan epistemologi berjalan di dalam diakletika antara pola absolutisasi dan pola relativitasi. Epistemologi filsafat pendidikan Islam membahas seluk beluk dan sumber-sumber filsafat pendidikan Islam. Pendidikan Islam bersumber dari Allah swt. Hukum-hukum yang diciptakan Allah swt. 

Text Box: 5Epistemologi filsafat pendidikan Islam merupakan filsafat tentang sumber-sumber pendidikan Islam dan seluk-beluk pendidikan. Secara epistemologi, landasan pendidikan Islam mengacu pada fitrah sebagai dasar pengembangan dan inovasi pendidikan Islam yang berkarakter, karena pendidikan yang berkarakter selalu bertolak dari aspek-aspek kemanusiaan. Epistemologi diperlukan dalam filsafat pendidikan Islam antara lain dalam hubungannya dengan dasar kurikulum yaitu menyangkut materi yang bagaimana serta bagaimana cara menyampaikan pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Pertanyaan mengenai mengapa salah satu mata pelajaran dijadikan pelajaran wajib dan mengapa pelajaran lain dijadikan sebagai mata pelajaran pilihan juga merupakan penerapan epistemologi dalam bidang pendidikan Islam. Beberapa contoh lain adalah menyangkut pertanyaan berikut: metode mana yang paling tepat digunakan dalam proses pendidikan? Dengan sistem pendidikan yang mana kegiatan pendidikan dilaksanakan untuk mendapatkan nilai pendidikan yang benar?. Lahirnya Kurikulum Merdeka Belajar adalah salah satu usaha baik dari pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Melihat kondisi ini, dilihat dari sudut epistemologi adalah seharusnya pengetahuan apa yang harus diberikan kepada peserta didik?. Hal ini tentu terkait dengan pengetahuan kita akan kebutuhan yang diperlukan peserta didik. Harus mengetahui dan memahami berbagai kemampuan atau kelebihan atau kecerdasan yang dimiliki anak, tidak bisa semua siswa diberlakukan sama. Sebagaimana firman Allah swt. dalam QS Fatir/35 : 19

وَمَا يَسْتَوِى الْاَعْمٰى وَالْبَصِيْرُ ۙ

Terjemahan

Tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.[14]

Bagaimana cara menyampaikannya? Pertanyaan ini terkait dengan kompetensi guru serta metode atau gaya pengajaran yang mereka terapkan. Cara penyampaian cukup mempengaruhi motivasi peserta didik dalam belajar. Salah satu contoh sekolah dasar kreatif yang memberikan pengajaran yang unik. Kadang guru memberikan pendidikan dengan outbound, dengan bentuk dongeng atau cerita, atau dengan memberikan pesan moral dan mengajak untuk berpikir rasional. Untuk membenahi konsep pendidikan Islam diperlukan pola baru dalam konteks hubungan diantara epistemologi filsafat. Pola baru ini dimaksudkan agar hubungan semuanya lebih sesuai dengan dinamika sosial- budaya yang berkembang, peranan epistemologi filsafat pendidikan Islam yang mendasari berbagai aspek pendidikan Islam ini sudah barang tentu merupakan kontribusi utama bagi pengembangan dan pembinaan pendidikan Islam. Epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh pendidikan Islam. Pendidikan Islam harus berkembang terus. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori pendidikan Islam. Penguasaan epistemologi, terutama cara-cara memperoleh pengetahuan sangat membantu para pihak yang bergelut dalam pengembangan pendidikan Islam untuk melakukan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun dirinya sendirinya.

Text Box: 6Epistemologi merupakan pendekatan yang berbasis proses, maka epistemologi melahirkan konsekuensi-konsekuensi logis dan problematika yang sangat kompleks, yaitu 1) Pendidikan Islam seringkali dikesankan sebagai pendidikan yang tradisional dan konservatif, hal ini wajar karena orang memandang bahwa kegiatan pendidikan Islam dihinggapi oleh lemahnya penggunaan metodologi pembelajaran yang cenderung tidak menarik perhatian dan memberdayakan. 2) Pendidikan Islam terasa kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi suatu “makna dan nilai” yang perlu di internalisasikan dalam diri seseorang lewat berbagai cara, media dan forum. 3) Metodologi pengajaran agama berjalan secara konvensional tradisional, yakni menitikberatkan pada aspek korespondensi tekstual yang lebih menekankan yang sudah ada pada kemampuan anak didik untuk menghafal teks-teks keagamaan daripada isu-isu sosial keagamaan yang dihadapi pada era modern seperti kriminalitas, kesenjangan sosial dan lain lain. 4) Pengajaran agama yang bersandar pada bentuk metodologi yang bersifat statis indoktrinatif-doktriner.[15]

Epistemologi merupakan ilmu yang membahas tentang hal-hal yang bersangkutan dengan pengetahuan baik itu “bagaimana cara mendapatkan”, “bagaimana alur/seluk beluk”, atau “bagaimana metode” dalam mendapat sebuah ilmu pengetahuan dalam pendidikan. Sekaitan dengan pendidikan Islam, kajian epistemologi menekankan pada upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan pendidikan Islam. Aktivitas berfikir dalam epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreatifitas keilmuan ke-Islaman dibanding ontologi dan aksiologi.

Sistem pendidikan merupakan rangkaian dari sub sistem-sub sistem atau unsur-unsur pendidikan yang saling terkait dalam mewujudkan keberhasilannya. Menurut Fuad Ihsan, Ada tujuan, kurikulum, materi, metode, pendidik, peserta didik, sarana, alat, dan pendekatan.[16] Keberadan satu unsur membutuhkan keberadaan unsur yang lain, tanpa keberadaan salah satu di antara unsur-unsur itu proses pendidikan menjadi terhalang, sehingga mengalami kegagalan. Ketika kita berbicara dalam tataran sistem pendidikan Islam, maka sub sistem atau ruang lingkupnya adalah tujuan pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam, materi pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, pendidik, peserta didik, sarana pendidikan Islam, alat pendidikan Islam, dan pendekatan pendidikan Islam.

Text Box: 7Persoalan epistemologis pendidikan dalam kajian filsafat pendidikan Islam tidak cukup dengan jawaban yang strategis sebab secara aktual persoalan epistemologis selalu berkembang menjadi masalah-masalah yang harus segera diselesaikan oleh para intelektual muslim melalui analisis dan metodologi yang tepat. Persoalan epistemologis pendidikan yang menjadi masalah aktual juga mengkondisikan dengan tantangan perubahan zaman di setiap generasi yang salah satunya adalah teknologi informasi.

 

2.        Pengertian Aksiologi Pendidikan Filsafat Pendidikan   Islam

Menurut Kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah (1) kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, (2) kajian tentang nilai khususnya etika. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak, dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakup sebagai tambahanSesegala bentuk kewajiban, kebenaran dan kesucian. Nilai sebagai kata     benda konkret. Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai. Ia sering dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainya atau nilai dia. nilai juga dipakai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai.

Dari definisi aksiologi di atas, terlihat dengan jelas bahwa permasalahan utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada masalah etika dan estetika. Aksiologi ilmu terdiri dari nilai-nilai yang bersifat normatif. Dalam pembahasan aksiologi, nilai menjadi fokus utama. Nilai dipahami sebagai pandangan, cita-cita, adat, kebiasaan, dan lain-lain yang menimbulkan tanggapan emosional pada seseorang atau masyarakat tertentu. Dalam filsafat, nilai akan berkaitan dengan logika, etika, estetika. Logika akan menjawab tentang persoalan nilai kebenaran sehingga dengan logika akan diperoleh sebuah keruntutan ilmu pengetahuan.

Persoalan aksiologi pendidikan filsafat pendidikan Islam adalah persoalan akhir yang menyangkut tentang manfaat dan kegunaan dari mempelajari pendidikan Islam itu sendiri. Persoalan aksiologi menyangkut nilai-nilai tentang pendidikan Islam itu sendiri dengan maksud menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia, menjaga dan membina di dalam kepribadiannya baik yang bersifat spiritual maupun yang berwujud.[17]

Text Box: 8Nilai dalam kaitannya dengan pendidikan Islam terdiri atas dua pendekatan yakni etika dan estetika yang memberikan makna bahwa objek kajian dan rangkaian proses yang dilakukan harus memiliki nilai dan tidak merusak nilai-nilai yang ada, baik nilai kemanusiaan, maupun nilai ketuhanan (agama). Pendekatan ini sesungguhnya merupakan alat kontrol yang efektif dalam melihat kebermaknaan dan ketidak bermaknaan atau ideal dan tidak idealnya konsep pendidikan yang ditawarkan bagi umat manusia. Sumber nilai yang berlaku dalam pranata sosial kehidupan manusia dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu :

Nilai Ilahiyah

Nilai ilahiyah merupakan nilai yang dititahkan Tuhan melalui para Rasul-Nya yang berbentuk takwa, iman dan adil serta diabadikan dalam wahyu Ilahi. Nilai-nilai Ilahiyah selamanya tidak mengalami perubahan Nilai Ilahiyah mempunyai 2 jalur, yaitu:

a.         Nilai yang bersumber dari sifat-sifat Allah sebanyak 99 yang tertuang dalam “al-Asmaul Husna” yakni nama-nama yang indah. Nama-nama itu pada hakikatnya telah menyatu pada potensi dasar manusia yang selanjutnya disebut fitrah; dan

b.         Nilai yang bersumber dari hukum-hukum Allah, baik berupa Quraniyah maupun kauniyah.[18]

Menurut Khotimah, nilai-nilai yang akan diajarkan dalam pendidikan Islam dituntut mampu membentuk dasar moral dan etis kehidupan berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan (iman). Nilai moral absolut hanya pada Allah Yang Maha kekal dan tidak terikat pada ruang dan waktu. Allah senatiasa menghendaki hamba-Nya menegakkan keadilan dan kebenaran, kasih sayang, kesucian karena Allah itu Maha Adil, Maha Benar, Maha Pengasih, Penyayang, dan Maha Suci. [19]

Nilai spiritual keilahian manusia melekat erat pada pendidikan, maka hakikat pendidikan adalah masalah manusia dalam kesejatian dirinya sebagai makhluk Tuhan. Dengan sifat spiritual keilahian, manusia justru mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan dan pengembangan dirinya sebagai manusia melalui seluruh rangkaian kegiatan pendidikan berhakikat memanusiakan manusia sebagai makhluk Tuhan. Nilai-nilai dan prinsip umum yang kekal (extend) dalam perspektif Islam adalah wahyu.

 

Text Box: 9
 


Nilai Insaniyah

Nilai Insaniyah tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Nilai ini bersifat dinamis. Sedangkan keberlakuan dan kebenarannya relatif (nisbi) yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Nilai-nilai Insaniyah yang kemudian melembaga menjadi tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Karena kecenderungan tradisi tetap mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan tata nilai, kenyataan ikatan-ikatan tradisional sering menjadi penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia.

Muhmidayeli juga menyatakan bahwa secara makro, apa yang menjadi objek filsafat yaitu ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan manusia merupakan objek pemikiran filsafat pendidikan. Secara mikro yang menjadi objek pemikiran atau ruang lingkup filsafat pendidikan sebagai berikut

1.    Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan;

2.    Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan;

3.    Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan,                agama dan kebudayaaan;

4.    Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan , dan teori pendidikan;

5.    Merumuskan hubungan antara filsafat Negara, filsafat pendidikan , dan politik pendidikan;

6.    Merumuskan sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang merupakan    tujuan                                    pendidikan.[20]

Dengan demikian ruang lingkup filsafat pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan Islam, seperti masalah tujuan pendidikan Islam, masalah guru, kurikulum, metode dan lingkungan. Secara umum ruang lingkup pembahasan filsafat pendidikan Islam ini adalah pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu, menyeluruh, dan universal mengenai konsep-konsep yang berkaitan dengan pendidikan atas  dasar ajaran Islam.

Text Box: 10Persoalan-persoalan pendidikan, berarti awal dari permasalahan pendidikan yang menuntut jawaban. Dari hasil bacaan penulis, persoalan pendidikan dalam kajian filsafat Islam, penulis bagi ke dalam tiga kategorisasi persoalan utama, yaitu persoalan pendidikan pada aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Aksiologi pada dasarnya bersifat ide dan karena itu ia abstrak dan tidak dapat disentuh oleh panca indra.

3.         Pengertian Ontologi Pendidikan dalam Kajian Filsafat Pendidikan     Islam

 

Persoalan ontologi merupakan persoalan “ada” atau hakekat, substansi awal dalam filsafat pendidikan Islam. Lazimnya, persoalan ontologi selalu dimulai dengan pertanyaan “apa”, seperti contoh apa itu pendidikan, apa itu filsafat, dan sebagainya. Persoalan ini dianggap penting sebagai pijakan awal untuk mengkaji persoalan-persoalan yang akan muncul berikutnya. Islam sebagai agama yang kita pedomani mempersyaratkan ketauhidan sebagai awal membuka pengetahuan-pengetahuan selanjutnya. Syarat ini diwujudkan dengan dua kalimat syahadat sebagai ikrar kesetiaan dan janji serta pengakuan manusia kepada sang pencipta-Nya atas pengetahuan awal yang dimilikinya. Nurcholis Madjid menurut Hasan Sulaiman Fathiyah, berpendapat makna pokok kalimat syahadat adalah pembebasan dari belenggu kepercayaan, disusul kepercayaan kepada Allah, Tuhan yang sebenarnya, demi keteguhan dan kelestarian kebebasan itu sendiri.[21]

Pengetahuan yang dimaksud adalah tiada Tuhan yang mencipta selain Allah Swt, dan Muhammad Saw., sebagai utusan pembawa pengetahuan tersebut ke dunia. Informasi tentang syarat yang diikrarkan oleh manusia kepada pencipta-Nya tersebut membawa ke persoalan pendidikan, tentang bagaimana bentuk setia, janji dan pengakuan manusia, dalam pendidikan Islam.

Bila dilihat dari fungsinya, maka filsafat pendidikan islam merupakan pemikiran mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan islam. Oleh karena itu, filsafat ini juga memberikan gambaran tentang sampai dimana proses tersebut dapat direncanakan dan dalam ruang lingkup serta dimensi bagaimana proses tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam seharusnya bertugas dalam 3 demensi, yakni sebagai berikut :

Text Box: 11
 


1.      Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan pada proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan ajaran islam.

2.      Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelksanaan tersebut.

3.      Melakukan evaluasi terhadap metode dari                                  proses pendidikan tersebut

Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani atau konkret maupun rohani atau abstrak. Secara ontologis ilmu membatasi lingkup penelaahankeilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauanpengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca-pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuanilmu. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuandari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologistertentu.Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifatempiris ini adalah konsisten dengan asas epistemologi keilmuan yangmensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuandan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah.

 

 

 

 

 

 

Text Box: 12

         
BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Filsafat Pendidikan Islam adalah suatu alat yang digunakan untuk berfikir secara mendalam dan mendasar dalam rangka menentukan arah visi, misi, kurikulum metode belajar hingga evaluasi yang akan digunakan dalam pelaksaan pendidikan islam. Agar terciptanya pendidikan islam yang ideal dan holistik

Berdasarkan hasil pemaparan dan pengkajian terhadap makalah ini, penulis merumuskan kesimpulan sebagai berikut:

1.    Persoalan ontologi pendidikan dalam kajian filsafat pendidikan Islam terbagi atas tiga persoalan: pendidikan ber-Islam yakni mengupayakan pembimbingan, pendidikan dan pembinaan dalam mengenalkan Islam secara keseluruhan kepada peserta didik; pendidikan ber-Iman yakni mengupayakan totalitas ajaran Islam untuk ditanamkan  kepada anak melalui keimanan kepada Allah swt dengan dasar-dasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syari’ah; dan pendidikan ber-Ihsan yakni menanamkan keyakinan suasana hati dan perilaku peserta didik untuk senantiasa merasa dekat dengan Tuhan sehingga tindakannya sesuai dengan aturan Allah swt.

2.    Persoalan epistemologi pendidikan dalam kajian filsafat pendidikan Islam adalah proses pendidikan dalam tataran sistem pendidikan Islam, yang ruang lingkupnya adalah tujuan pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam, materi pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, pendidik, peserta didik, sarana pendidikan Islam, alat pendidikan Islam, dan pendekatan pendidikan Islam.

3.    Persoalan aksiologi pendidikan dalam kajian filsafat pendidikan Islam menyangkut nilai-nilai tentang pendidikan Islam itu sendiri dengan maksud menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia, menjaga dan membina di dalam kepribadiannya baik yang bersifat spiritual maupun yang berwujud yang terbagi atas dua nilai utama yaitu nilai Ilahiyah dan nilai Insaniyah.

2, Saran

Text Box: 13Makalah ini dapat bermanfaat jika di baca dan dikembangkan tulisannnya dan dapat bermanfaat pula kepada pembaca ketika tulisan ini dijadikan salah satu rujukan tulisan, bila terdapat kekurangan makna serta kurang berkualitas disarankan untuk dapat dilengkapi guna kesempurnaan makalah ini serta menambah khasanah tulisan makalah ini.


DAFTAR   PUSTAKA

 

Abdullah Idi & Jalaluddin Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Cet.IV, Yokyakarta: Ar- Ruzz Media, 2012

Baki, , Nasir. A. Filsafat Pendidikan Islam. Cet.1: Makassar: Alauddin University Press, 2008

 

Barnadib Imam, Filsafat Pendidikan : Sistem dan Metode. Yokyakarta: Ombak, 2013

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Cet. IX; Bandung: Diponegoro, 2007

Hidayat, Rahmat dan Henny SN, Filsafat Pendidikan Islam; Membangun Konsep Pendidikan Islam, Cet. 1; Medan: LPPI. 2018

Hidayat, Rahmat.  Epistemologi Pendidikan Islam: Sistem, Kurikulum, Pembaharuan Dan Upaya Membangun Epistemologi Pendidikan Islam”, Jurnal Almufida Vol. I No. 1 Juli-Desember 2016, http://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/almufida/article/download/104/99, laman diakses tanggal 27 Maret 2023.

Jalaludin, dan Usman Said. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2001

 Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.

               Khotimah, Indah Husnul. (2015). “Dimensi Aksiologis Pendidikan Islam”, https://www.researchgate.net/profile/Indah_Husnul_Khotimah/publication/329528105_DIMENSI_AKSIOLOGIS_PENDIDIKAN_ISLAM/links/5c17c59ba6fdcc494ffc5121/D IMENSI-AKSIOLOGIS-PENDIDIKAN-ISLAM.pdf?origin=publication_detail.

Putra Haidar Daulay. Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat. Cet. 1; Jakarta: Kencana, 2014

Qomar, Mujamil. Epistemologi Pendidikan Islam: dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik. Jakarta: Erlangga, 2005.

Text Box: 14                Rofiq, M. Nafiur. (2012). “Peranan Filsafat Ilmu Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan”, FALASIFA: Jurnal Studi Keislaman, https://ejournal.inaifas.ac.id/ index.php/falasifa/article/download/112/77.



[1] Haidar Putra Daulay. Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat. (Cet. 1; Jakarta: Kencana, 2014). h. 9

[2] Sutrisno dan Muhyidin Albarobis, Pendidikan Islam ´Berbasis Problem Sosial (cet.I; Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h.15

[3] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Cet. IX; Bandung: Diponegoro, 2007), h. 543.

[4] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan : Sistem dan Metode. (Yokyakarta: Ombak, 2013). h. 7

[5]Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu Menguri Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan . (Cet. 1; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004). h. 80.

 

[6] Arif Rohman, dkk. Epistemologi dan Logika Filsafat Untuk Pengembangan Pendidikan. (Cet. 1; Yokyakarta: UNY Press & Aswaja Pressindo, 2014), h. 13

[7]Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam: dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, (Jakarta: Erlangga, 2005), h. 4.

[8] Nasir. A. Baki. Filsafat Pendidikan Islam. (Cet.1: Makassar: Alauddin University Press). h. 86

[9] Arif Rohman, dkk. Epistemologi dan Logika Filsafat Untuk Pengembangan Pendidikan. h.13

 

[10] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, h, 22

[11]Jalaluddin & Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat dan Pendidikan. (Cet.IV, Yokyakarta: Ar- Ruzz Media, 2012) h. 128

[12] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, (Cet.2, Bandung: Refika Aditama, 2013) h. 79

[13] Mujammil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam:dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, h. 27

[14] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Cet. IX; Bandung: Diponegoro, 2007), h. 471.

[15] Mujtahid, Reformulasi Pendidikan Islam; Meretas Mindset Baru, Meraih Paradigma Unggul (Malang: UIN-Maliki Press, 2011), h. 37.

[16] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, h, 58

[17] Mujtahid, Reformulasi Pendidikan Islam, h, 92

[18] Mohammad Noor syam.. Filsafat Pendidikan dan Dasar Fisafat, Pendidikan pancasila. (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), h. 93

[19] Khotimah, www.researchgate.net

[20] Muhmidayeli. Filsafat Pendidikan Islam. Pekanbaru LSFK2P, 2005. h. 12

[21]Hasan Sulaiman Fathiyah, Aliran–aliran    dalam    Pendidikan. Semarang: Dina Utama, 1993, h. 48